Jangan Samakan P2P Lending dengan Crowdfunding, ini Bedanya!

Mempersiapkan bisnis harus memikirkan banyak faktor, mulai dari ide, target konsumen, produksi, marketing, media penjualan, harga dan masih banyak lagi. Namun ada hal yang lebih penting diantara yang sudah disebutkan, yaitu modal yang cukup agar bisnis bisa berjalan. Percuma saja bukan jika semua persiapan konsep sudah matang tapi terkendala dengan tidak adanya modal?

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan modal. Selain bisa meminjam dari keluarga atau teman, biasanya kebanyakan orang juga akan mengajukan pinjaman ke bank. Setiap bank memiliki ketentuan tertentu yang telah ditetapkan untuk nasabah yang ingin mengajukan pinjaman.

Misalnya saja nasabah yang memiliki kartu kredit bisa mengajukan pinjaman hingga batas maksimal, sedangkan yang tidak memiliki kartu kredit hanya terbatas atau ketentuan lainnya. Hal tersebut tentunya bisa menjadi kendala bagi pebisnis pemula.

Bagi Anda yang tidak memiliki akses ke bank, kini memanfaatkan fintech (financial technology) untuk mendapatkan dana pinjaman menjadi solusi yang sangat tepat. Sekarang ini ada dua produk fintech yang sedang tren di masyarakat terutama di kalangan pebisnis pemula, antara lain peer to peer lending atau P2P lending dan crowdfunding.

Sayangnya kebanyakan orang hanya tahu soal meminjam uang, membayar cicilan setiap bulannya, dan menganggap P2P lending dan crowdfunding adalah sama saja. Padahal anggapan itu tidaklah benar, sebab kedua produk fintech tersebut tentu memiliki perbedaan.

Agar wawasan Anda soal fintech bertambah, simak perbedaan antara P2P lending dengan crowdfunding berikut ini.

Pengertian

Peer to peer lending (P2P lending) merupakan sebuah wadah yang mempertemukan para peminjam (borrower) dengan pemberi pinjaman (lender). Pertemuan mereka ini tak lain dari transaksi menyoal pinjaman dana untuk keperluan pribadi yang bersifat mendadak, pendidikan hingga modal usaha atau bisnis yang dilakukan secara online. Artinya, mereka yang bersangkutan tidak perlu bertemu langsung atau tatap muka, melainkan hanya menggunakan smartphone yang terhubung ke internet.

Equity crowdfunding tidak jauh berbeda dengan P2P lending. Yang membedakan hanya pada sistem pendanaannya saja, crowdfunding yang diartikan sebagai dana sukarela. Jadi, bagi peminjam akan mendapatkan dana yang telah dikumpulkan dari para donatur.

Kompensasi yang Diberlakukan

P2P lending menerapkan kompensasi bunga bagi peminjam dan pemberi pinjaman. Pengaju pinjaman akan mendapatkan bunga pinjaman yang sangat terjangkau, yaitu antara 7% hingga 30% per tahunnya. Tingkat bunga yang akan Anda dapatkan tersebut, tergantung dari tingkat risiko yang terdapat pada data pengajuan. Sementara pemberi pinjaman akan mendapatkan bunga keuntungan yang lumayan tinggi yaitu mencapai 10% hingga 35% per tahun.

Beda halnya dengan crowdfunding yang memberikan dua penawaran untuk para pendukung atau donatur, berikut ini beberapa di antaranya.

  • Saham

Bagi pelaku bisnis yang mengajukan dana modal kepada platform dapat memberikan saham kepemilikan kepada orang-orang yang telah memberikan Anda dukungan berupa donasi dalam bentuk uang sebagai bentuk balasan.

  • Hadiah

Tak sedikit juga pebisnis yang sudah melakukan crowdfunding akan memberikan hadiah berupa diskon belanja produk mereka, kaus, atau dalam bentuk lainnya kepada mereka yang sudah mendonasikan uangnya dengan sukarela.

Keterlibatan Investor

Terlibatnya investor pada bisnis Anda biasanya ada sebuah kesepakatan di awal atau muncul permasalahan. Sama halnya dengan P2P lending, sebenarnya investor tidak akan ikut campur mengenai perkembangan bisnis Anda selama Anda bisa membayar tagihan setiap bulannya dengan tepat waktu. Akan tetapi, bila Anda mengalami sebaliknya, tentu investor akan turun tangan sebab ada sejumlah uang yang disetorkan.

Namun, pada crowdfunding Indonesia justru donatur atau investor wajib menerima laporan yang diberikan dari pemilik bisnis untuk mengetahui perkembangannya. Bukan hanya itu saja, investor juga sangat diperbolehkan untuk terlibat langsung dalam menjalankan bisnis Anda. Ini tentunya tergantung dari persetujuan kedua pihak sejak awal, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.